Buat orang kampung seperti aku, gilasan roda kehidupan jakarta benar-benar memaksa berat badanku turun sampai 5kg. Sebenarnya ada sedikit rasa gembira yang diam-diam menebus semua kelelahan itu. Tentu saja karena aku tidak perlu bersusah payah lagi menurunkan berat badanku. Tapi setiap kali baca novel kebangganku, rasanya penderitaanku tidaklah berarti apa-apa.
Bukan mengeluh apalagi menyesal, aku hanya ingin menggambarkan perjuanganku untuk datang dan pulang dari kantor. Ah, sepertinya terlalu berlebihan kalau menyebut itu suatu perjuangan. Mungkin kata-kata yang lebih tepat adalah rutinitas. Tidak hanya aku yang mengalaminya, tapi puluhan ribu bikers yang lain. Kami sering berkumpul seperti kepala-kepala capung yang sedang menyerbu musim panen di bawah lampu merah. Nyawa-nyawa kami sering kali terancam karena ulah sesama maupun predator lain yang merasa terusik dengan keberadaan kami. Sehingga mereka benar-benar mematikan hati nurani dan tak ada lagi toleransi.
Kalau saja setiap mereka menyadari akan kelebihan-kelebihan mereka, mungkin mereka akan sedikit berbelas kasihan pada sang capung yang rentan akan luka dan goresan pada fisiknya. Terlebih lagi ketika musim hujan tiba, kami para capung menggigil kedinginan dalam balutan jas hujan. Sementara mereka bisa tetap menjaga badan mereka dari cipratan lumpur karena gencatan ban-ban besar mereka.


